![]() |
| Ghodhul Bashar |
(Nida' Ar-Rahman) Mata adalah anugerah
dari Allah subhanahu wa ta’ala, sebuah nikmat yang menjadi amanat yang
akan kita pertangung jawabkan di akhirat. Kita tidak bisa menikmati indahnya
pemandangan yang Allah berikan di dunia ini jika mata kita tidak berfungsi. Maka pantas dan wajib
kita
mensyukuri nikmat mata ini, "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang
engkau dustakan?" (QS. Ar-Rahman : 51). Mensyukuri nikmat adalah salah
satu dari bentuk ibadah, oleh karena itu syukur seharusnya dituangkan dalam
tiga cara :
1. Bersyukur dengan
lisan, yakni mengucapkan Alhamdulillah dan pujian-pujian untuk Allah.
2. Bersyukur dengan
hati, yakni meyakini bahwa nikmat ini berasal dari Allah, dan meyakini bahwa
sejatinya tidak ada yang bisa memberi kecuali Allah, dan meyakini bahwa semua
ini akan kita pertangung jawabkan di hadapan Allah kelak.
3. Bersyukur dengan
Anggota badan (Amal), yakni meningkatkan kualitas dan kuantitas amal ibadah
kita. Karena sebuah nikmat yang kita syukuri dengan menambah kualitas dan
kuantitas amal ibadah, merupakan tanda berkah dan insya Allah akan ditambah
kenikmatan lain, Allah berfirman "Sesungguhnya jika kamu bersyukur,
niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadmu…" (QS. Ibrahim : 7). Namun
jika nikmat yang kita dapat, menjadikan kita lali dan jauh dari Allah, maka itu
tandanya nikmat tersebut akan menjadi laknat yang memperberat siksaat di
akhirat, Allah berfirman "….Tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku),
maka pasti adzab-Ku sangat berih" (QS. Ibrahim : 7)
Namun, berapa banyak
manusia yang kurang bisa mensyukuri dan memanfaatkan mata mereka? Berapa banyak
manusia yang mengunakan matanya sebagai pintu kemaksiatan? Mari kita koreksi
diri kita di kelompok manakah kita berada, di kelompok yang mampu mensyukuri
nikmat mata atau kelompok yang lalai dari nikmat tersebut?
Sungguh mata bisa
menjadi awal kehancuran dan juga awal kebahagiaan. Dahulu ada seorang ahli
adzan yang sudah bertahun-tahun lamanya mengumandangkan adzan lima waktu sehari
semalam. Namun suatu ketika tatkala dia naik ke menara masjid untuk
mengumandankan adzan, dan di situ dia melihat seorang wanita Nasrani yang cantik
memikan hatinya. Seusainya dari mengumandangkan adzan dia turun dan menemui
wanita tersebut dan mengungkapkan bahwa dia terpesona dengannya dan ingin
menikahinya. Wanita itupun menolak karena alasan beda agama, dan dia bersedia
dinikahi laki-laki tersebut dengan syarat laki-laki tersebut meningalkan Islam
dan menjadi penganut Nasrani. Laki-laki itupun tanpa berfikir panjang
mengiyakan persyaratannya, dan seketika itu dia menyatakan dirinya murtad dari
agama Islam dan menjadi Nasrani gara-gara mengikuti syahwat yang pintunya
berasal dari liarnya mata memandang. Akhir cerita laki-laki itupun meninggal dunia
jatuh dari tingkat, usai menemui ayah dari wanita tersebut, dia mati dalam
keadaan murtad setelah lama menghabiskan umurnya untuk mengumandangkan adzan,
dia pun dikuburkan di perkuburan nasrani tanpa di sholati dan lain sebagainya.
Marilah kita merenung
dari sepenggal kisah di atas, betapa meruginya dia setelah menghabiskan umurnya
untuk ketaatan namun akhirnya murtad dan hangus segala amalnya gara-gara fitnah
syahwat yang masuk lewat pintu berupa mata. siapa jua yang menjamin kita
selamat dari hal serupa? oleh karena besarnya bahaya yang ditimbulkan oleh
liarnya mata, maka Allah Azza wa Jalla mengingatkan kita :
قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا
فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ * وَقُلْ
لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ
............ (سورة النور 30-31)
Artinya :
“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar
mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, yang dimikian itu
lebih suci bagi mereka. Sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.
Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar meraka menjaga
pandangannya dan memelihara kemaluannya…” (QS. An-Nur 30-31)
Di antara hikmah mengapa pada ayat tersebut, setelah
perintah untuk menjaga (menundukkan) pandangan, kemudia datang perintah untuk
memelihara kemaluannya dari perbuatan yang nista, hal itu karena awal mula
pintu-pintu setan adalah mata, kemudian turun kehati kemudian turun ke kemaluan
dan terjadilah perbuatan-perbuatan nista yang tidak pantas dilakukan.
“Dari mana datangnya lintah?, dari sawah turun ke
kali. Dari mana datangnya fitnah? Dari mata turun ke hati”
Berapa banyak kasus pemerkosaan, pencabulan,
perselingkuhan bos dan sekretarisnya, tetangga dan tetangga, pergaulan bebas
antara mahasiswa, perzinahan pelajar dan lain sebagainya. Sumber dari semua itu
adalah ketidak mampuan jiwa dalam mengontrol mata sehingga panah syahwat turun
kehati dan meniadakan fugsi otak untuk berfikir jernih sehingga hidupnya
ditujukan untuk memenuhi syahwat birahi. Dan jika keadaan masyarakat sudah
terbiasa dengan hal seperti ini, maka itu adalah detik-detik kehancuran sebuah
negeri, karena kemaksiatan adalah sumber dari segala fitnah dan kehancuran.
Oleh karena pentingnya menundukkan pandangan dari
hal-hal haram, maka lebi dari 14 abad yang lalu Rasulullah Shallallahu
alaihi wa salam menasehati Ali radhiyallahu anhu dan juga kita :
“Wahai Ali, janganlah pandangan pertama kau ikuti
dengan pandangan berikutnya. Untukmu pandangan pertama, tetapi bukan untuk
berikutnya” (HR Abu Dawud, dishahihkan oleh Imam Hakim)
Bahkan karena bahaya liarnya pandangan, Ibnu Sirin
seorang Ulama’ Tabi’in sangat berhati-hati dan sekuat tenaga menghindarkan
matanya melihat wanita yang tidak halal baginya, karena kegigihannya dalam
menjaga pandangan sampai-sampai terbawa ke alam mimpinya, sebagaimana yang
diutarakan beliau :
“Aku melihat seorang wanita di dalam mimpiku, dan
aku tahu bahwa wanita tersebut tidaklah halal bagiku, maka seketika itu aku
palingkan mataku dari melihatnya” (Kitab Ar-Ru’ya hal 168, juz 1, karya Hamud bin
Abdullah At-Tuwaijiri)
Subhanallah, keistiqomahan beliau dalam menjaga
pandangannya sampai terbawa ke alam mimpi.
Di negeri kita, para wanita sudah semakin purba,
menanggalkan pakaian dari badannya, terlihatlah dada paha dan lekuk tubuhnya,
diumbar gratis kepada setiap mata yang memandangnya, pujian seksi sangat
berharga baginya, tak peduli neraka ancamannya, tak peduli ada Allah yang
memperhatikannya. Dan itu adalah ujian terberat bagi lelaki di sekitarnya.
Di negeri kita, paha wanita lebih murah dari ayam
potong di pasar, gigi mereka pagar, dada mereka buka lebar-lebar, paha mereka
umbar, ketika terjadi musibah bilangnya “semua laki-laki sama dan liar”.
Merekalah manusia-manusia yang hampir putus urat malunya dan tiada nalar.
Di negeri kita, lelaki semakin berbahaya, bagai
serigala berbulu domba, membiarkan mata memandang ke sini dan ke sana,
fikirannya dipenuhi nafsu kepada wanita, hidupnya untuk memenuhi kebutuhan
syahwatnya saja. Ini adalah musibah dan tiada kebaikan yang bisa diharapkan
darinya, karena bahayanya melebihi manfaatnya.
Semoga lelaki dan wanita di negeri kita mendapatkan
hidayah, mampu menjaga mata, dan menjadi sholih sholihah, sehingga terciptalah
negeri makmur aman sentosa, mendapat barakah dan ridho Allah Azza wa Jalla.
Madinah Munawwarah, 27 November 2015

SHARE US →